WOMAN WITH TURBAN
Rasanya aku telah kehilangan tiga minggu terakhir hariku untuk menyalurkan hobby – jalan-jalan. Dan weekend kemarin telah menjadi pelampiasannya – spending all day for hangout, and getting a lightening from one of Indonesian movie – Perempuan Berkalung Surban.
Nonton film garapan Hanung ini bikin aku gemes setengah mati, karena lagi-lagi diunjukkan bagaimana sistem patriarki membelenggu perempuan, hanya saja kali ini sistem patriarki itu direpresentatifkan oleh latar belakang pesantren. Kalau sebelumnya “AAC” dibilang menjadi sebuah karya fenomenal anak negeri dalam bidang perfilman, tapi menurutku “PBS” jauh lebih berbobot. Inti dari cerita bukan didominasi masalah percintaan, bukan pula berbicara tentang religiusitas. It’s about Human Right, Freedom for All, and Gender Equality. Perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang paralel sejajar. Hak dan kewajiban keduanya memang tidak sama secara nature, namun secara nurture, tidak ada alasan membuat batas antara antara laki-laki dan perempuan untuk memiliki kebebasan dalam ranah sosial.
Tidak mudah memang untuk menolak sebuah budaya yang sistemik, apalagi merombak, bahkan menggantinya. Dan masalah kebebasan bagi perempuan, menurutku tidak akan terpecahkan jika mentok berbicara tentang sistem atau budaya. Karena sistem dan budaya sangat dipengaruhi oleh cara pandang orang-orang di dalamnya (bukan seseorang, tapi orang-orang).
Dan diperlukan sebuah keberanian untuk mengubah keadaan.
Dan beberapa menit setelah film selesai, aku baru bisa menyimpulkan apa maksud dari judul “Perempuan Berkalung Sorban”, setelah sebelumnya aku berpikir-pikir apa hubungannya “berkalung surban” dengan kisah perempuan di film ini. Di akhir cerita tokoh utama wanita, dengan menunggang kuda, melepas dan membuang sorban yang terkalung di lehernya. Kalau boleh kusimpulkan, itu artinya tokoh perempuan tersebut telah terbebas dari belenggu yang mengekang kebebasannya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan : “mengapa harus sorban?” (sorban – bisa saja dijadikan representasi dari sebuah hal yang religius), dan bukan sesuatu yang benar jika mengatakan agama menjadi belenggu bagi kebabasan perempuan. Trus, kenapa harus “sorban” ???

Leave a Reply